Seorang mahasiswi semester tiga yang bernama Ava Naura, kuliah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prodi, Pendidikan Bahasa Arab membuat tulisan perihal FYP JOKES di TikTok. Tulisan ini membahas mengenai kolom komentar di TikTok yang lebih viral dibandingkan dengan isi video yang diunggah. 

Fenomena FYP (For Your Page) di TikTok tidak hanya membentuk tren konten visual yang terus berubah, tetapi juga memunculkan budaya komunikasi baru di kolom komentar. Kolom komentar kini berubah menjadi ruang hiburan tersendiri, di mana humor menjadi bentuk interaksi paling dominan di antara para pengguna.

Dalam berbagai unggahan, komentar-komentar lucu, punchline singkat, hingga referensi tidak relevan justru lebih banyak mendapat perhatian ketimbang isi video. Hal ini mendorong munculnya pola komunikasi khas TikTok: cepat, ringkas, dan menghibur.

Komentar Jadi “Konten Kedua”

Pengamat bahasa melihat fenomena ini sebagai pergeseran fungsi bahasa di ruang digital. Komentar lucu memiliki peluang lebih besar naik ke posisi teratas karena mendapatkan banyak likes. Alih-alih menjadi tempat diskusi, kolom komentar kini menjadi ruang komedi mini di setiap video.

“Kadang komennya lebih lucu daripada videonya,” ujar kreator TikTok Adam (@19sept), menyoroti budaya baru tersebut.

Secara linguistik, komentar-komentar itu menjalankan fungsi fatis—menjalin hubungan sosial—dan fungsi rekreatif sebagai hiburan, bukan lagi fungsi informatif. Pengguna berlomba membuat komentar paling menarik demi mendapatkan perhatian.

Inside Jokes dan Frasa Populer Jadi Kode Komunitas

Humor TikTok memiliki ciri khas berupa penggunaan inside jokes, seperti frasa viral “Tenangin diri lo” atau “Pelan-pelan pak supir”. Frasa ini menjadi kode linguistik in-group yang hanya dipahami pengguna aktif.

Menurut kajian sosiolinguistik, penggunaan frasa tersebut merupakan bentuk indexing, yaitu cara pengguna menunjukkan bahwa mereka bagian dari komunitas yang update dan memahami tren bahasa TikTok.

Komentar Lepas Kendali: Dekontekstualisasi untuk Efek Komedi

Salah satu fenomena yang sering muncul adalah penyisipan frasa populer di konteks video yang sama sekali tidak relevan. Misalnya, pada video seorang atlet gagal mengangkat barbel, komentar seperti “Tenangin diri lo mas, semua masih bisa diundo” menjadi viral.

Ujaran tersebut mengalami dekontekstualisasi—dilepaskan dari makna aslinya—dan direkontekstualisasi sebagai ironi untuk menciptakan efek komedi.

Algoritma Dorong Humor, Atensi Makin Ringkas

Durasi video yang pendek membuat pengguna tidak meluangkan waktu membaca komentar panjang. Punchline singkat menjadi bentuk komunikasi paling efisien. Algoritma TikTok yang memprioritaskan interaksi juga secara tidak langsung mendorong pengguna memakai gaya bahasa yang cepat, lucu, dan padat makna.

Risiko: Kedalaman Semantik Hilang

Dominasi humor ini memicu kritik bagi kreator yang membuat konten edukatif atau serius. Banjirnya komentar bercanda kerap mengalihkan fokus dari pesan utama.

Secara linguistik, hal ini menandai bahwa fungsi ekspresif dan hiburan lebih mengemuka dibanding fungsi informatif. Kolom komentar menjadi panggung bagi pengguna untuk menjadi “komedian dadakan”.

Dialek Digital Baru

Dengan beragam kode, referensi, dan gaya interaksi, humor TikTok berkembang menjadi dialek digital baru. Keberhasilan komunikasi di platform ini tidak lagi diukur dari seberapa informatifnya sebuah komentar, melainkan dari kemampuannya memicu tawa dan rasa kebersamaan.

Fenomena ini diperkirakan akan terus berkembang seiring pertumbuhan TikTok sebagai media sosial video pendek utama. Kolom komentar akan tetap menjadi arena komedi spontan, tempat kreativitas linguistik pengguna terus diuji dan dirayakan.

Shares: