Koenci.com-Kampung Reforma Agraria Bukit Sinyonya di Desa Bandung, Kabupaten Pandeglang, menjadi simbol bagaimana program Reforma Agraria bertransformasi menjadi penggerak ekonomi masyarakat sekaligus ruang kreatif bagi generasi muda.

Selain memberikan kepastian hukum atas tanah, program ini membuka peluang besar untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya melalui pengelolaan objek wisata seperti Bukit Sinyonya yang telah diakui sebagai salah satu Kampung Reforma Agraria terbaik pada Januari 2025.

Asep Adam, seorang pemuda berusia 25 tahun yang juga pengelola desa wisata tersebut, menjelaskan bahwa kampung ini sejak dahulu memiliki potensi ekonomi yang besar. Namun, ia menegaskan bahwa potensi tersebut sulit berkembang tanpa adanya pemberdayaan melalui Reforma Agraria, yang memberikan peluang bagi masyarakat untuk mengoptimalkan sumber daya desa secara produktif dan berkelanjutan.

Potensi yang dulunya hanya dikelola secara tradisional kini telah berubah berkat keterlibatan aktif anak-anak muda. Salah satu contohnya adalah kerajinan anyaman yang sebelumnya hanya menghasilkan barang sederhana seperti tas pandan. Dengan inovasi dan pelatihan yang dilakukan bersama generasi muda, produk-produk dari kerajinan anyaman desa kini lebih bervariasi dan bernilai tinggi, termasuk sepatu berbahan pandan serta tas dengan desain modern.

Menurut Asep Adam, keberadaan desa wisata memberikan harapan baru kepada generasi muda untuk kembali tertarik pada tradisi yang sudah lama ada, sekaligus membawa pembaruan. Ia pun menambahkan bahwa kreativitas anak muda mendorong peningkatan nilai jual produk. Para pengrajin yang dulunya hanya sebatas produsen kini juga diberdayakan menjadi instruktur bagi masyarakat maupun pengunjung desa wisata.

Ani, salah satu pengrajin berusia 52 tahun yang telah lama menganyam, mengungkapkan perubahan signifikan dalam kehidupannya. Menganyam yang dulunya hanya dianggap sebagai aktivitas turun-temurun kini menjadi sumber penghasilan tetap bagi keluarganya. Dari hasil kerajinan tersebut, Ani bahkan mampu membantu biaya pendidikan anaknya hingga jenjang kuliah.

Reforma Agraria di Desa Bandung bukan sekadar pemberian hak atas tanah; lebih dari itu, program ini mendorong masyarakat untuk mengelola tanah serta memanfaatkan sumber daya di atasnya secara maksimal. Melalui kolaborasi dengan universitas, pihak swasta, dan pemerintah daerah, masyarakat desa terus berupaya memperkuat desa wisata sebagai pusat ekonomi kreatif yang memberdayakan berbagai kalangan. (R002)

Shares: