Koenci.com-Koenci.com menayangkan tulisan Nazar Ray, seorang jurnalis senior di desk otomotif. Ia mengisahkan kisah seorang bapak yang menginginkan anaknya sukses di negeri orang. Simak tulisan Nazar Ray alias Nazar Akagi dengan judul, Menjauh Demi Adab dan Kepatutan: Pelajaran Dari Rumah yang Sepi.
Rumah itu mendadak sepi. Tumben, pikirku. Biasanya, dua anak tetanggaku yang masih muda sering terlihat berlalu-lalang. Si bujangan yang kerap menyapa hangat dan pergi ke masjid, dan si gadis belia yang gemar bersepeda mengelilingi kompleks, serta gemas menggendong kucing-kucingku. Kini, tak ada suara, tak ada aktivitas keduanya, hanya keheningan yang menempel di dinding rumah itu.
Rasa penasaran mendorongku mencari tahu. Ternyata, si bapak—sosok yang selama ini hanya sesekali kutemui—telah membawa kedua anaknya pergi menempuh pendidikan ke Eropa. Bahkan, katanya, jika perlu mereka akan menetap di sana sampai mereka menikah.
“Biar wawasan mereka terbuka, mandiri, dan terpenting adalah bagaimana hidup mereka menghargai diri sendiri dan orang lain,” kata si bapak, tenang namun penuh tekad.
Motivasi di balik keputusan itu membuatku tercenung. Bukan karena gengsi atau status sosial. Bukan karena ingin anak-anaknya berbahasa asing atau bergelar tinggi. Tapi karena ada kegelisahan mendalam—kekhawatiran seorang ayah terhadap arus deras gaya hidup yang kian jauh dari akal sehat dan nilai moral.
“Saya ngeri lihat gaya hidup anak-anak muda atau menjelang dewasa sekarang, ingin terpandang dan kaya dengan jalan instan, jalan pintas. Biar anak saya punya mental yang bagus dan pola pikir yang berwawasan jauh ke depan. Saya ingin mereka berfikir keras, bahwa meraih sesuatu butuh proses, bukan jalan pintas,” lanjutnya.
Katanya Negara Agamis
Di mata si bapak, Indonesia yang katanya menjunjung nilai religius, justru kini seperti ladang subur bagi perilaku tak terpuji. Negeri yang mengaku agamis, malah dipenuhi ironi. Tempat-tempat maksiat tumbuh subur bak jamur di musim hujan, saling hujat dan menghina seolah menjadi doa yang tidak boleh ditinggalkan.
Menurutnya, semua itu bermuara pada aliran uang yang deras seperti sungai, mengalir ke tangan mereka yang memiliki kekuasaan dan kepentingan, termasuk di antaranya para ASN, aparat keamanan, hingga pejabat di tingkat kementerian.
Bahkan, dalam narasi yang menyesatkan, sebagian dari tempat itu seakan menjadi ritual baru yang dianggap “biasa saja”—seolah sebuah keharusan sosial yang tidak boleh ditinggalkan.
Baginya, kedua buah hatinya menetap di negara yang sering dicap sebagai negeri maksiat dan kebebasan mutlak bukanlah ancaman, melainkan kesempatan. Ia percaya, justru di sanalah anak-anaknya bisa tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, beradab, dan beretika, sekaligus tetap mengingat Tuhannya dalam setiap langkah hidup.
“Biar intan dibuang ke dalam lumpur yang keruh, intan tidak merubah dirinya menjadi kotoran,” katanya berpuisi.
Lalu ia menutup pembicaraan dengan kalimat yang mencubit kesadaran:
“Daripada hidup di negara yang katanya agamis dan menjaga kesantunan, justru anak saya malah terjerat gaya hidup yang jauh dari nilai-nilai kepatutan dan agama.”
Rumah tetanggaku mungkin kini sunyi, tapi justru di balik kepergian itu, ada suara perjuangan seorang ayah yang ingin anak-anaknya tumbuh dalam kebijaksanaan. Kadang, untuk mendekatkan anak pada nilai, kita harus membawa mereka menjauh dari tempat yang mengaku memilikinya tapi tak lagi menjaganya.
Aku pun melangkah pulang dari perbincangan itu dengan hati yang tak lagi sama—penuh tanya, renung, dan diam yang tak selesai.
Nantikan tulisan Nazar Akagi di kisah berikutnya.









