Koenci.con-Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini memasuki babak baru. Tidak lagi sekadar membagikan makanan dalam jumlah besar, pemerintah dan para mitra pelaksana mulai serius memperkuat kualitas gizi demi mengejar target ambisius, menurunkan angka stunting nasional hingga lima persen menuju Indonesia Emas 2045.

Langkah strategis itu terlihat saat Gabungan Mitra Dapur Makanan Bergizi (GAMDI) bertemu dengan Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) di kantor DPP PERSAGI, Pesanggrahan, Jakarta Selatan.

Pertemuan tersebut dinilai menjadi sinyal kuat bahwa program MBG tidak ingin hanya menjadi proyek distribusi makanan semata, tetapi juga investasi besar untuk menciptakan generasi Indonesia yang lebih sehat dan cerdas.

Delegasi GAMDI dipimpin Riyad dan diterima langsung Ketua Umum PERSAGI, Doddy Iswardy, bersama jajaran pengurus ahli gizi nasional.

GAMDI Ingin Ahli Gizi Awasi Dapur MBG

Dalam pembahasan itu, GAMDI berharap PERSAGI dapat menjadi mitra utama dalam pengawasan kualitas makanan bergizi gratis, mulai dari pemilihan bahan pangan, pengolahan makanan, hingga edukasi pola makan sehat kepada masyarakat.

“Selain bersilaturahmi sekaligus memperkenalkan GAMDI, kami juga menjajaki beberapa rencana strategis. Baik itu dari sisi GAMDI maupun PERSAGI,” ujar Riyad.

Menurutnya, keterlibatan ahli gizi menjadi faktor penting agar program MBG benar-benar memberi dampak nyata terhadap kesehatan masyarakat, bukan sekadar berjalan administratif.

Kolaborasi ini juga dinilai penting untuk memastikan standar operasional dapur MBG berjalan seragam di seluruh Indonesia.

PERSAGI Bongkar Bahaya Stunting: Bukan Sekadar Tubuh Pendek

Ketua Umum PERSAGI, Doddy Iswardy, menegaskan, stunting bukan hanya persoalan tinggi badan anak, tetapi juga menyangkut kecerdasan dan kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan.

“Mengapa dipilih stunting? Karena salah satu indikator stunting adalah kecerdasan,” kata Doddy.

Ia menjelaskan, keberhasilan program MBG sangat bergantung pada ketepatan komposisi gizi dan pengawasan distribusi pangan. Jika salah dalam penerapan, program besar tersebut dikhawatirkan hanya menjadi pemborosan anggaran.

“Bilamana terjadi kesalahan dalam menerapkan makanan tentunya akan mubazir,” tegasnya.

Remaja Putri Jadi Kunci Indonesia Emas 2045

PERSAGI juga menyoroti pentingnya intervensi gizi sejak remaja putri sebelum memasuki masa kehamilan.

Menurut Doddy, remaja putri yang sehat, bebas anemia, dan tidak mengalami kekurangan energi kronik akan memiliki peluang lebih besar melahirkan generasi unggul.

“Saat mereka berumah tangga diharapkan sudah memahami makanan-makanan bergizi. Sehingga saat masuk pada 1.000 hari pertama kehidupan, mulai dari masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun, itulah sebenarnya fondasi Indonesia Emas,” ujarnya.

Wilayah 3T Jadi Tantangan Besar Program MBG

Di sisi lain, tantangan terbesar program MBG disebut berada di wilayah 3T atau daerah tertinggal, terdepan, dan terluar.

Sebagai negara kepulauan dengan wilayah sangat luas, Indonesia menghadapi persoalan besar dalam menjaga kualitas distribusi makanan bergizi agar tetap aman dan memenuhi standar nutrisi.

Kesalahan dalam pemilihan bahan pangan, pengolahan makanan, hingga distribusi dinilai dapat membuat program kehilangan efektivitasnya.

Karena itu, sinergi antara GAMDI dan PERSAGI dianggap menjadi langkah penting untuk memperkuat pengawasan kualitas program MBG secara nasional.

Dengan pengawasan berbasis ilmu gizi, program MBG diharapkan tidak hanya menjadi proyek bantuan makanan, tetapi juga investasi jangka panjang untuk menciptakan generasi Indonesia yang lebih sehat, cerdas, dan bebas stunting. (R002)

Shares: