KOENCI, Jakarta – Menyambut usia Jakarta ke-500 pada 2027, riset besar mulai dilakukan. FISIP UI melalui LabSosio memetakan ruang publik di 267 kelurahan Jakarta. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi titik temu warga di seluruh wilayah.
Hasil riset ini dipaparkan dalam seminar sosiologi di kampus UI Depok. Para pakar membahas kondisi fisik dan potensi sosial ruang terbuka hijau. Ruang publik Jakarta mencerminkan keberagaman karakter wilayah yang sangat unik.
Dosen UI, Dr. Sakti Wira Yudha, menyoroti tantangan akses di lapangan. Taman kota hingga RPTRA menghadapi masalah kesenjangan kualitas yang nyata. Namun, tingkat penggunaan ruang publik di Jakarta tetap tergolong tinggi.
Data menunjukkan 77 persen ruang publik rutin digunakan oleh warga Jakarta. Jakarta Timur mencatat angka penggunaan tertinggi mencapai 84 persen. Sementara itu, Jakarta Utara mengikuti di posisi kedua sebesar 82 persen.
Revitalisasi Strategis dan Tantangan Inklusivitas Wilayah
Jakarta Barat menghadapi tantangan penggunaan ruang yang masih kurang optimal. Sekitar 32 persen warga di sana hanya sesekali datang berkunjung. Kondisi ini menunjukkan perlunya langkah revitalisasi fasilitas yang lebih serius.
Jakarta Timur memiliki rata-rata luas ruang publik sekitar 5.103 meter. Angka ini jauh mengungguli luas rata-rata ruang di Jakarta Barat. Kepulauan Seribu juga menonjol dengan aset dermaga dan pantai publik.
“Tingkat penggunaan ruang publik menjadi indikator penting dalam penelitian sosiologi ini.” ungkap Dr. Sakti Wira Yudha.
Aspek inklusivitas menjadi sorotan utama dalam hasil riset LabSosio ini. Jakarta Timur tercatat sebagai wilayah paling inklusif mencapai 87 persen. Semua kelompok usia dapat beraktivitas bersama dalam satu zona ruang.
Sebaliknya, ruang publik di Jakarta Utara cenderung terasa lebih eksklusif. Hambatan akses juga ditemukan pada kawasan elit di Jakarta Selatan. Jakarta Pusat terkendala oleh padatnya gedung tinggi yang menutup ruang.
Sekitar 70 persen ruang publik hanya memerlukan perbaikan skala ringan. Pengecatan ulang dan penambahan bangku taman menjadi solusi cepat tersedia. Jakarta Timur memiliki peluang terbesar untuk melakukan intervensi fisik tersebut.
Sakti merekomendasikan pendekatan placemaking untuk meningkatkan kualitas interaksi sosial warga. Fasilitas bagi penyandang disabilitas dan penerangan jalan harus segera diperbaiki. Kolaborasi lintas sektor sangat dibutuhkan guna menjaga keberlanjutan fungsi ruang.
Jakarta diharapkan menjadi kota global yang modern sekaligus tetap humanis. Visi ini menjadi kado indah bagi peringatan ulang tahun Jakarta nantinya. Mari kita bangun modal sosial melalui interaksi di ruang publik.***




