Koenci.com-Kabar duka menyelimuti Tanah Air pada Senin pagi, 2 Maret 2026. Indonesia kehilangan salah satu putra terbaiknya, Try Sutrisno, mantan Wakil Presiden Republik Indonesia ke-6 yang wafat di Jakarta setelah menjalani perawatan medis intensif.

Almarhum mengembuskan napas terakhir pada pukul 06.58 WIB di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto (RSPAD). Informasi tersebut dikonfirmasi oleh mantan Kepala RSPAD, Letjen TNI (Purn) Albertus Budi Sulistya.

Dalam beberapa waktu terakhir, kondisi kesehatan Try Sutrisno diketahui menurun dan memerlukan penanganan serius dari tim dokter.
Kepergian purnawirawan jenderal bintang empat ini bukan sekadar kehilangan bagi keluarga, melainkan juga bagi bangsa yang pernah merasakan kepemimpinannya di masa transisi penting sejarah nasional.

Karier Militer Try Sutrisno: Dari Prajurit hingga Panglima ABRI

Nama Try Sutrisno identik dengan perjalanan panjang di tubuh TNI. Lahir di Surabaya, ia meniti karier militer dari bawah dengan reputasi disiplin dan kedekatan kuat dengan prajurit di lapangan.

Kariernya mencapai titik strategis saat dipercaya menjabat sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) pada periode 1986–1988. Tak lama berselang, ia menduduki posisi tertinggi militer sebagai Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) pada 1988–1993.

Pada masa itu, stabilitas nasional menjadi fokus utama pemerintahan Orde Baru. Try Sutrisno memainkan peran sentral dalam menjaga soliditas internal militer sekaligus mendukung kebijakan negara di bidang pertahanan dan keamanan.

Wakil Presiden RI ke-6: Peran di Era Orde Baru

Puncak pengabdiannya di ranah kenegaraan terjadi ketika ia dipercaya menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia periode 1993–1998, mendampingi Presiden Soeharto.

Sebagai Wakil Presiden, Try Sutrisno dikenal sebagai figur yang tenang, tegas, dan tidak banyak tampil di ruang publik, namun memiliki pengaruh signifikan dalam konsolidasi pemerintahan saat itu.

Ia menjadi bagian dari dinamika politik nasional menjelang akhir era Orde Baru—periode yang penuh tantangan dan perubahan besar bagi Indonesia.

Dedikasi di Dunia Olahraga: Memimpin PBSI

Tak hanya di bidang militer dan politik, Try Sutrisno juga meninggalkan jejak di dunia olahraga. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Umum Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) selama delapan tahun.

Di bawah kepemimpinannya, pembinaan bulutangkis nasional terus diperkuat. Komitmennya menunjukkan bahwa pengabdian kepada negara baginya tidak terbatas pada satu sektor semata, melainkan mencakup pembangunan karakter bangsa melalui olahraga.
Sosok yang Dikenang: Integritas dan Kedekatan dengan Prajurit

Bagi banyak prajurit, Try Sutrisno bukan hanya atasan, tetapi juga pemimpin yang memahami kondisi di lapangan. Integritas dan kedisiplinannya kerap menjadi teladan.

Ia dikenal menjaga etika militer sekaligus menunjukkan kepedulian terhadap kesejahteraan anggota. Gelombang belasungkawa pun mengalir dari berbagai kalangan—pejabat negara, tokoh masyarakat, hingga warga biasa—yang mengenang dedikasi dan pengabdiannya selama puluhan tahun.

Warisan Seorang Prajurit dan Negarawan

Wafatnya Try Sutrisno menandai berakhirnya perjalanan panjang seorang prajurit yang mengabdikan hampir seluruh hidupnya untuk negara. Dari medan tugas militer, ruang rapat strategis pertahanan, hingga Istana Wakil Presiden, ia menjadi bagian dari bab penting sejarah Indonesia modern.

Kini, nama Try Sutrisno akan tercatat sebagai salah satu tokoh kunci dalam perjalanan militer dan politik Indonesia era Orde Baru—sebuah warisan sejarah yang akan terus dikenang generasi mendatang. (R002)

Shares: