Koenci.com-Universitas Indonesia (UI), Politeknik Negeri Padang (PNP), dan Universitas Diponegoro (Undip) melaporkan capaian implementasi Program Hibah Kemendikti Saintek Tanggap Darurat Bencana Sumatera 2025 kepada Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah.
Pertemuan berlangsung di Istana Gubernur Sumatera Barat, Padang, Rabu (31/12/2025).
Tiga perguruan tinggi negeri tersebut menjalankan kolaborasi lintas keilmuan dalam merespons dampak bencana di sejumlah wilayah Sumatera Barat. UI bersama PNP fokus di Kabupaten Tanah Datar, tepatnya di Nagari Padang Laweh Malalo, Nagari Guguak Malalo, dan Nagari Sumpur (Kecamatan Batipuh Selatan). Sementara Undip melaksanakan kegiatan di Kota Padang dan Kabupaten Agam.
Gubernur Mahyeldi menyambut hangat kedatangan rombongan dan menyampaikan apresiasi atas keterlibatan aktif perguruan tinggi dalam penanganan bencana.
Ia menilai program hibah Kemendikti Saintek mendorong kampus hadir langsung di lapangan dan memberikan solusi nyata bagi masyarakat.
“Kami berterima kasih kepada UI, Undip, dan PNP yang telah berkoordinasi memberikan bantuan kepada masyarakat Sumatera Barat. Dukungan perguruan tinggi sangat berarti, mulai dari kesehatan, penyediaan air bersih, hingga upaya rehabilitasi dan rekonstruksi ke depan,” ujar Mahyeldi.

Capaian Lapangan: Air Bersih, Energi Surya, hingga Pemetaan Risiko Bencana
Dalam pertemuan tersebut, perwakilan perguruan tinggi memaparkan berbagai capaian respon tanggap darurat. Tim B UI yang diketuai Dr. Adonis Muzani melaporkan pemasangan peralatan penyaring air bersih dan air minum, penyediaan fasilitas internet darurat, serta pemanfaatan panel surya untuk mendukung kebutuhan warga di lokasi terdampak.
Selain bantuan teknis, tim UI dan PNP juga menyampaikan temuan penting terkait potensi risiko bencana lanjutan. Salah satunya adalah retakan pada perbukitan di wilayah Nagari Guguak Malalo yang memicu longsoran tanah dan bebatuan hingga mengalir ke Muaro Ambius dan Danau Singkarak.
Tim juga mendokumentasikan kondisi check dam (bendungan kecil) di Jorong Duo Koto yang hancur akibat bencana. Padahal, struktur tersebut sebelumnya berperan penting dalam menahan material longsor dan mengurangi risiko banjir bandang (galodo).
“Temuan-temuan ini kami sampaikan agar menjadi perhatian dalam perencanaan rekonstruksi dan mitigasi ke depan,” kata perwakilan tim UI–PNP.
Kantor Wali Nagari dan Urgensi Penataan Ruang
Perhatian khusus juga diberikan pada Kantor Wali Nagari Guguak Malalo yang lokasinya berada di tepi aliran sungai serta di bawah elevasi jalan utama. Kondisi ini dinilai rawan terhadap banjir dan longsor susulan.
Wali Nagari Guguak Malalo, Mulyadi, mengaku terbantu dengan kehadiran tim perguruan tinggi, khususnya karena melibatkan ahli geologi yang memberikan rekomendasi berbasis kajian ilmiah.
Pemetaan Geologi Jadi Prioritas Sumatera Barat
Gubernur Mahyeldi menegaskan pentingnya pemetaan geologi Sumatera Barat sebagai dasar mitigasi bencana.

Ia menyebut wilayah Sumatera Barat memiliki sejumlah patahan aktif yang berpotensi memicu bencana hidrometeorologi maupun geologi.
Menurutnya, kolaborasi berkelanjutan dengan perguruan tinggi seperti UI, PNP, dan Undip sangat dibutuhkan agar data ilmiah dapat terintegrasi dalam perencanaan pembangunan daerah.
“Kami berharap sinergi antarperguruan tinggi terus diperkuat agar bantuan lebih terkoordinasi dan berdampak maksimal, khususnya dalam rehabilitasi dan rekonstruksi masyarakat Sumatera Barat,” tutup Mahyeldi.
Usai dialog dengan perwakilan perguruan tinggi, Gubernur Sumatera Barat dijadwalkan meninjau langsung wilayah terdampak bencana di Kabupaten Solok, Kabupaten Tanah Datar, dan kawasan Malalo. (R002)









