Cerita Nazar Akagi dari Jepang
Sungai Tonegawa membuat kenangan yang masih terekam di diriku. Beristirahatlah sejenak dari luka. Ini waktumu, inilah panggung hidup barumu. Nikmati, meski badai kerap datang menguji.
Aku memberanikan hati, melangkah jauh dari hangatnya homestay, menyusuri rel sunyi dengan kereta Jomo—satu-satunya jalan menuju kota kecil bernama Chou Maebashi, yang dalam bayangku, sejuk seperti Bandung saat hujan sore.
Di akhir stasiun, gadis-gadis muda yang super kawai berseragam putih-hitam menyambut langkahku, seperti bunga-bunga sakura yang jatuh perlahan ke tanah.
Kota ini indah, senyum warganya adalah hangat yang jarang kutemui di negeri lain. Tanpa sadar, enam kilometer telah kulalui, namun letih tak pernah singgah, karena tiap sudut kota ini adalah puisi yang hidup.
Sampailah aku di tepian sungai Tonegawa, di mana jembatan beton menjulur bagai lukisan masa depan.
Tiba-tiba hujan turun deras, membasahi tubuh dan hatiku yang masih retak. Tak ada tempat berteduh, hanya langit kelabu yang menumpahkan segala luka. Namun aku menikmatinya, menatap seberang yang hijau, penuh ilalang, kebun, dan rumah-rumah kayu Jepang yang tenang.
Hujan reda, matahari kembali menyengat, tapi aku duduk tenang di pinggir sungai, ditemani rokok dan bayangan kelabu dari tanah air.
Ingatan dua minggu lalu masih menggores, namun kota ini, dan pekerjaan yang menyita waktu, seolah memeluk dan berkata: “Beristirahatlah sejenak dari luka.”
Sungai Tonegawa pun membisikkan harap:
“Lepaskan segala beban di aliranku, biarkan cinta yang kandas, dan luka yang menyesakkan, terbawa sampai muara pantai Kamakura.”
Lalu datang jernihnya Hirose, anak sungai Tonegawa, menghembuskan kata lembut di telingaku:
“Kau bukan di sini untuk berkabung, Nazar. Ini waktumu, inilah panggung hidup barumu. Nikmati, meski badai kerap datang menguji.”
Tepukan lembut menyadarkanku, ternyata Padmu, kawan sekerja dari Nepal. Delapan tahun ia menetap di sini, delapan tahun ia bertahan dan bermimpi.
“Apa yang kau pikirkan, sahabat?” tanyanya.
“Orang-orang yang pernah merendahkanmu? Atau cinta yang kandas dan membekas?”
Ia tertawa kecil, lalu berkata, “Lupakan semua. Di sini kau tak sendiri. Kita sama—berjuang dan bercita. Dan soal wanita, percayalah, kau akan temukan yang seindah Gunung Akagi, dan secantik Danau Haruna di sini.”
Aku tersenyum. Padmu, meski bukan senegara dan berasal dari negara miskin, hatinya dan pola pikirnya jauh lebih kaya dari mereka yang pernah merendahkan dan menyakitiku di Konoha.
Tiga hari berlalu, kata-katanya menjelma nyata. Aku berkenalan dengan gadis Tokyo dan kebetulan menetap di Chou Mebashi, bernama Shiina, tingginya menjulang seperti harapanku yang mulai tumbuh kembali.
Kami hanya teman, tak lebih. Aku tak ingin cinta tumbuh tergesa. Biarlah mengalir saja, seperti aliran Hirose yang tak pernah melawan takdir.
Selamat datang, Nazar, di Maebashi yang baru.
Langkah barumu telah dimulai, dan luka itu, biarlah jadi kenangan yang perlahan sembuh di antara ilalang dan senyuman orang asing yang hangat.











