Koenci.com-Saat ini koenci.com mempersembahkan cerita mengenai romantisme Railway dan JR East. Kisah ini ditulis oleh jurnalis senior, Nazar Ray. Nazar Ray terkenal dengan nama Nazar Akagi. 

Shiina-san, gadis Jepang tinggi semampai berusia 26 tahun, mengirim pesan singkat: Jika ingin bertemu dengannya, malam ini dan besok adalah waktu yang tepat. Ia sedang libur.

Langit senja belum sepenuhnya gelap ketika aku menjejakkan kaki kembali di homestay. Jam menunjukkan pukul 18.00. Aku baru saja pulang dari trial working. Kebetulan yang manis, esok pun aku tak bekerja.

Maka segera kusambut malam itu seperti menyambut musim semi pertama: mandi, berdandan modis, mengenakan jaket stylish yang hangat dan harum. Tak hanya menjaga tubuh dari angin dingin Gunma, tapi juga menyatu dengan pemandangan manusia urban negeri empat musim yang elegan dan rapi, bahkan dalam perjalanan malam dengan kereta Jomo.

Kereta terakhir Jomo Electric Railway akan berangkat pukul 20.00. Aku segera berlari kecil ke Araya Eki, hanya 300 meter dari tempat tinggalku. Nafasku memburu, tapi hatiku ringan. Seolah malam ini telah ditakdirkan untuk menjadi cerita.

Alhamdulillah, aku sempat. Kereta klasik Jomo dengan tiga gerbong—seperti potongan masa lalu yang bergerak—membawaku menuju kota kecil Chou Maebashi. Hanya tiga puluh menit perjalanan, namun cukup untuk membangkitkan degup yang asing dan menyenangkan.

Di pintu keluar stasiun itu, Shiina sudah menungguku dengan ekspresi secantik bunga Nanohana yang mekar di ladang Abukuma Kasenjiki, Miyagi. Lahir dan besar di Tokyo, tapi memilih Chou Maebashi untuk memantapkan kariernya. Kota kecil ini, katanya, memberinya ruang untuk bernapas dan mengakar.

Malam kami sederhana namun indah. Yakiniku hangat di lidah, sake membuat kami bersenda gurau, dan kopi jadi teman setia bagi kebiasaanku merokok. Ada tawa, ada diam, dan ada jeda yang tak perlu diisi dengan kata.
Oh ya, ini bukan kisah cinta klise. Kami hanyalah Teman Tapi Mesra—sebuah frasa ambigu yang hanya bisa dipahami oleh hati yang sedang nyaman, tanpa perlu status atau janji.

Ketika malam larut dan kereta terakhir telah lewat, Shiina berkata:
“Kamu menginap saja, mari saya antar ke hotel yang tidak terlalu mahal di kota ini.”

Ada kehangatan dalam tawarannya. Maka malam itu, tanpa perlu menjelaskan lebih jauh, kami berbagi ruang dan keheningan dengan aroma rempah di kamar penginapan.

Kemesraan di Transportasi Umum

Pagi menyambut dengan hujan yang belum reda dan angin gunung Akagi yang mencubit kulit. Tapi Shiina tampil menawan dengan jaket berbulu mengelilingi lehernya, sepatu panjang hitam mengkilap, mengingatkanku pada gaya para penghuni Harajuku. Aku gemas—ingin mencium pipinya terus menerus, tapi cukup ku simpan dalam angan.

Kami berkeliling Gunma. Dari Chou Maebashi ke Takasaki, Isesaki, hingga ke sudut-sudut kota kecil. Semua dengan kereta lokal dan bus. Semuanya nyaman, bersih, dan tepat waktu.

Di Takasaki, kami menaiki kereta JR East. Aku diam sambil menyimak lagu When I Come Around dari Green Day. Di sebelahku, Shiina tersenyum tipis dengan Plastic Love dari Mariya Takeuchi yang mengalun di headset-nya.

Sunyi tapi sarat makna. Di tengah bangku kereta, aku merapat dan berbisik: “Cuma di dalam kereta saja aku bahagia, ada kedekatan dan romantisme yang membekas di dalam transportasi umum.”

Shiina menoleh dan membalas lembut,
“Di Jepang, banyak cerita cinta dirasakan di angkutan umum, bukan mobil pribadi.”

Katanya, di negeri ini, tidak ada gengsi dalam memilih moda transportasi. Bahkan pasangan yang sedang kasmaran pun tidak sedikiut lebih memilih kereta, yang tenang, efisien, dan penuh kenangan.

“Di sini saya rasa tidak ada gengsi. Karena hampir semua orang Jepang memanfaatkan kereta api untuk berbagai keperluan, termasuk jalan-jalan bersama orang yang dicintai. Jadi kita bisa saling membahagiakan di dalam angkutan umum yang tenang, bersih dan membawa kenangan,” kata Shiina lagi.

Aku jadi teringat para sosialita di tanah air. Mereka yang memamerkan genggaman tangan di atas dasbor, berlatar logo kendaraan mewah, menganggap cinta bisa dibuktikan lewat interior kabin.

Shiina lalu menunjuk ke luar jendela. Di pinggir rel, tampak deretan diler mobil bekas, kebanyakan Kei Car.

“Gajimu dua bulan, kamu bisa membeli mobil-mobil itu. Walau bekas, itu masih bagus. Kalau kamu mau, ada yang 650-700 ribu yen. Apakah kamu perlu dan mendesak? Di sini kamu masih bisa memanfaatkan transportasi yang nyaman dan tepat waktu. Jadi simpanlah uangmu untuk kebutuhan lain,” jelasnya.

Dan aku makin jatuh kagum pada Shiina dan perempuan-perempuan Jepang pada umumnya. Dengan segala kemudahan yang ia punya, ia tetap memilih sederhana. Sepeda listrik sudah cukup baginya untuk menjelajah keindahan Gunma, dari apartemen mungilnya yang diapit Gunung Akagi dan Haruna.

Shiina menyukai city pop

“Kamu pernah mengirimiku link video klip lagu Christmas Eve dari Tatsuro Yamashita. Kamu lihat kan, bagaimana adegan-adegan dalam video klip tersebut berisi romantisme asmara dari JR East, dari pasangan-pasangan yang berbeda. Kalau pun ada kendaraan, itu adalah taksi yang menggambarkan kegelisahan seorang wanita terhadap kekasihnya di dalam mobil,” ujarnya.

Sore itu, kami kembali ke Chou Maebashi. Di dalam bus, Shiina bersandar di pundakku. Kami berbincang dalam Bahasa Jepang dan Inggris yang kacau, tapi hati kami paham. Persahabatan dan perasaan mengisi celah yang tak bisa dijembatani oleh grammar.

Setibanya di stasiun, hanya satu kereta Jomo tersisa yang membawaku kembali ke homestay di Kawamatsumachi. Shiina melepas tanganku.

Ada rasa haru yang perlahan mengendap. Bukan karena perpisahan, tapi karena pertemuan yang sederhana, tulus, dan membekas.

Romantisme dan kebahagiaan itu nyata, dan bisa dinikmati dalam perjalanan sederhana di atas kereta yang melaju perlahan.

Kami berdua sepakat

Kemesraan tak butuh kabin mewah atau logo yang mencolok di lingkar setir. Cinta tak lahir dari genggaman tangan yang dipamerkan di dasbor mobil mahal. Ia tumbuh dari keheningan yang dibagi di bangku kereta, dari tawa yang pecah di antara deru mesin dan denting roda besi.

Kami tak butuh kendaraan berkelas untuk merasa dekat. Cukup berdiri berdampingan di peron, menatap kereta yang datang dan pergi, menyaksikan cinta sederhana lewat kaca jendela yang berembun.

Di sinilah kami, menikmati stasiun demi stasiun, menyimpan kenangan di antara lalu-lalang kereta lokal yang unik dan cantik.

Inilah negeri Sakura, bentangan alam, sistem transportasi, budaya, dan manusia hidup berdampingan dalam harmoni. Tempat di mana romantisme tidak perlu dibuktikan dengan kemewahan, cukup dengan kehadiran, secangkir kopi, dan suara mesin kereta yang mendekat dari kejauhan.

(Kisah seorang perantau yang menemukan kehangatan di balik dinginnya Gunma)

Shares: