Kownci.com-Program Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih yang digagas pemerintah Indonesia semakin menunjukkan gaungnya di panggung internasional. Bukan hanya menjadi motor penggerak ekonomi desa di Tanah Air, program ini kini mendapat pengakuan langsung dari dunia akademik Malaysia.
Momentum penting tersebut ditandai dengan penganugerahan gelar Profesor Adjung kepada Prof. Dr. Muhammad Ridha Haykal Amal oleh Universiti Keusahawanan Koperasi Malaysia (UKKM). Penghargaan bergengsi itu diberikan sebagai bentuk apresiasi atas kontribusinya dalam pengembangan koperasi modern dan pemberdayaan ekonomi berbasis masyarakat desa.
Pengakuan ini sekaligus menjadi sinyal kuat bahwa model pembangunan ekonomi kerakyatan yang diterapkan Indonesia mulai diperhitungkan dan menjadi rujukan di kawasan Asia Tenggara.
Koperasi Desa Merah Putih Jadi Perhatian Dunia
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, Indonesia justru tampil dengan pendekatan yang dinilai inovatif.
Melalui Program Koperasi Desa Merah Putih, pemerintah mengintegrasikan kekuatan Dana Desa dengan pengembangan koperasi sebagai pilar utama ekonomi masyarakat.
UKKM menilai kebijakan tersebut sebagai terobosan besar yang belum banyak diterapkan negara lain. Model ini dianggap mampu menghidupkan ekonomi desa secara berkelanjutan melalui penguatan usaha produktif yang berbasis gotong royong, kemandirian, dan partisipasi masyarakat.
Tak heran jika pendekatan yang diterapkan Indonesia kini menarik perhatian akademisi, praktisi koperasi, hingga pembuat kebijakan di Malaysia.
Dana Desa Rp35 Triliun Jadi Kekuatan Besar Ekonomi Rakyat
Besarnya dukungan pemerintah terhadap Program Koperasi Desa Merah Putih menjadi salah satu faktor yang membuat dunia internasional tertarik.
Berdasarkan PMK Nomor 7 Tahun 2026, sekitar 58,03 persen Dana Desa dialokasikan untuk mendukung pengembangan ekosistem koperasi desa. Dengan total Dana Desa nasional mencapai Rp60,57 triliun, nilai yang berpotensi mengalir untuk memperkuat koperasi diperkirakan mencapai sedikitnya Rp35 triliun.
Tak hanya itu, setiap desa memperoleh dukungan modal produktif yang berkisar antara Rp348 juta hingga Rp464 juta setiap tahun guna mempercepat pertumbuhan usaha masyarakat.
Pemerintah juga memperkuat akses pembiayaan melalui PMK Nomor 49 Tahun 2025 yang memungkinkan koperasi memperoleh kredit hingga Rp3 miliar melalui perbankan Himbara.
Kombinasi dukungan fiskal dan akses pembiayaan inilah yang dinilai menjadikan Program Koperasi Desa Merah Putih sebagai salah satu program pemberdayaan ekonomi terbesar di Indonesia saat ini.
Malaysia Sangat Tertarik Belajar dari Indonesia
Prof. M. Ridha Haykal Amal mengungkapkan bahwa antusiasme berbagai pihak di Malaysia terhadap Program Koperasi Desa Merah Putih sangat tinggi.
Menurutnya, banyak kalangan yang melihat Indonesia berhasil menghadirkan model pembangunan ekonomi lokal yang tidak hanya berbasis masyarakat, tetapi juga mendapat dukungan kebijakan fiskal yang kuat dari negara.
“Program ini menunjukkan bagaimana koperasi dapat menjadi instrumen pembangunan yang efektif untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa secara berkelanjutan,” ungkapnya.
Ia menilai ketertarikan Malaysia terhadap pengalaman Indonesia menjadi bukti bahwa koperasi kembali mendapatkan posisi strategis sebagai solusi pembangunan ekonomi masa depan.
Indonesia Berpotensi Jadi Role Model Asia
Penganugerahan gelar Profesor Adjung kepada Prof. Haykal tidak sekadar menjadi penghargaan akademik pribadi. Lebih dari itu, penghargaan ini menjadi pengakuan terhadap arah kebijakan pembangunan desa yang sedang dijalankan Indonesia.
Kerja sama antara Indonesia dan Malaysia ke depan juga diproyeksikan semakin kuat, terutama dalam pengembangan koperasi, kewirausahaan masyarakat, transformasi digital agripangan, hingga penerapan ekonomi hijau.
Di bawah percepatan implementasi yang terus dilakukan Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Program Koperasi Desa Merah Putih kini mulai dipandang sebagai model ekonomi kerakyatan modern yang berpotensi menjadi contoh bagi negara-negara lain.
Pengakuan dari Malaysia ini menjadi bukti bahwa Indonesia tidak hanya sedang membangun desa, tetapi juga sedang membangun sebuah model ekonomi rakyat yang mulai mendapat tempat dan perhatian di tingkat internasional. (R002)









